Power: Tantangan Utama Data Center Indonesia di Era AI
Bukan soal ketersediaan, tapi kecepatan dan fleksibilitas daya
Perdagangan digital, cloud, dan terutama adopsi kecerdasan buatan (AI) telah mendorong pertumbuhan pesat infrastruktur data center di Indonesia. Namun, lonjakan kebutuhan daya yang diperlukan untuk menjalankan beban komputasi besar membuat tantangan power menjadi isu strategis yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Pesatnya Permintaan Daya untuk Data Center Global
Pertumbuhan konsumsi daya oleh data center berkaitan erat dengan ekspansi layanan digital dan AI. Menurut International Energy Agency (IEA), kebutuhan listrik global untuk pusat data diperkirakan lebih dari dua kali lipat hingga 2030 sebagai akibat lonjakan beban komputasi yang semakin intensif AI.
Demikian pula, laporan terbaru menyebutkan konsumsi listrik fasilitas hyperscale seperti Google terus meningkat — misalnya, konsumsi listrik Google naik lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
AI Mendorong Kebutuhan Energi Lebih Besar
AI memperkenalkan power density yang jauh lebih tinggi dibanding beban tradisional. Beberapa server AI sekarang membutuhkan puluhan hingga ratusan kilowatt per rak, jauh melebihi kebutuhan data center tradisional. Kebutuhan seperti ini menuntut suplai listrik yang lebih besar dan lebih stabil, sehingga grid konvensional sering tertekan oleh permintaan yang mendadak tinggi.
Tantangan Power di Indonesia: Kapitalisasi Lebih Sulit daripada Ketersediaan
Di Indonesia, daya listrik secara nasional sebenarnya tersedia dan bahkan tarifnya dinilai kompetitif oleh PLN untuk mendukung pertumbuhan data center. Namun, persoalan utama bukanlah jumlah listrik, melainkan akses cepat dan fleksibilitas daya untuk mengakomodasi kebutuhan beban tinggi yang terus berubah.
Grid Belum Sepenuhnya Siap untuk Beban AI
Permintaan listrik yang didorong oleh data center AI juga menjadi faktor penting dalam perencanaan utama nasional. PT PLN menyatakan permintaan listrik dari data center akan menjadi bagian dari perencanaan kapasitas masa depan, termasuk dalam RUPTL 2025–2034.
Namun, integrasi grid saat ini lebih fokus pada perluasan kapasitas dan sumber energi baru terbarukan, sedangkan respon terhadap lonjakan beban cepat seperti AI masih terbatas. Hal ini menciptakan situasi di mana pembangunan fisik data center sering lebih cepat selesai dibanding kesiapan akses daya yang stabil dan fleksibel.
Mengapa Kesiapan Daya Jadi Lebih Krusial Daripada Ketersediaan?
Berbeda dengan “kekurangan listrik,” tantangan operasional data center di Indonesia terletak pada dua hal utama:
Kecepatan Akses Daya
Dalam banyak kasus, pembangunan data center selesai sebelum sambungan daya yang mendukung operasional penuh siap. Padahal, grid nasional harus melakukan perencanaan dan penguatan infrastruktur yang memakan waktu lebih lama daripada pembangunan gedung itu sendiri.
Fleksibilitas Daya dan Transisi Energi
Transisi ke energi bersih menjadi fokus Indonesia untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan keberlanjutan. Pemerintah menargetkan peningkatan pembangkit EBT (Energi Baru Terbarukan) hingga puluhan gigawatt di RUPTL, termasuk sektor pusat data yang menyumbang permintaan signifikan.
Namun, integrasi energi terbarukan yang stabil ke grid nasional serta grid flexibility tetap menjadi tantangan. Energi terbarukan, seperti geothermal atau surya, dapat membantu menyediakan daya yang lebih sustainable — tetapi mekanisme dan investasi masih perlu lebih matang agar bisa mendukung tuntutan operasi 24/7 data center modern.
Dampak Strategis Tantangan Power di Era AI
Potensi Pertumbuhan yang Tertahan
Jika daya tidak tersedia tepat waktu atau dalam bentuk yang fleksibel, risiko yang muncul termasuk:
- Penundaan operasional data center
- Peningkatan biaya mitigasi teknis
- Potensi kehilangan investasi asing di infrastruktur digital
Peluang untuk Infrastruktur yang Lebih Cerdas
Di sisi lain, tantangan ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk:
- Mengembangkan smart grid yang lebih responsif terhadap kebutuhan IT
- Mempercepat integrasi energi EBT ke dalam jaringan nasional.
- Mendorong kebijakan dan pasar yang mendukung AI-ready power strategy
Kesimpulan
Data center yang siap menghadapi era AI tidak hanya memerlukan ruang fisik, tetapi harus didukung oleh strategi daya yang cepat dan fleksibel. Di Indonesia, meskipun secara agregat kapasitas listrik tersedia, kemampuan untuk menyediakan daya yang tepat waktu dan adaptif terhadap lonjakan beban adalah kunci untuk mendukung pertumbuhan pusat data yang sustainable dan kompetitif.
Solusi yang diperlukan mencakup kolaborasi antara pemerintah, operator data center, dan sektor energi untuk menciptakan ekosistem yang mampu memenuhi kebutuhan daya tinggi tanpa menghambat perkembangan teknologi dan layanan digital.
💡 Ingin meningkatkan kemampuan profesional di bidang Data Center? Daftar pelatihan langsung dengan menghubungi: https://wa.me/6285176950083



